Kertabumi bantu gaya hidup milenial kurangi sampah

Jakarta (ANTARA News) – Sejumlah komunitas di media sosial berusaha mengajak generasi milenial untuk hidup ramah lingkungan melalui beragam kampanye.

Salah satunya, Kertabumi Recycling Center yang menyebut organisasi mereka sebagai klinik sampah, bukan bank sampah yang mengumpulkan sejumlah sampah bernilai ekonomis.

“Kami klinik sampah. Jadi, kalian bawa sampah yang menurut kalian sudah nggak berguna, nanti kami ubah jadi produk baru,” kata pendiri Kertabumi, Iqbal Alexander saat ditemui di acara Bukalapak Trash to Treasure, Kamis.

Sambil berkelakar, Iqbal menyebut dirinya sebagai pemulung karena setiap hari dia mengumpulkan sampah-sampah kering, terutama plastik, dari rumah tangga. Misi Kertabumi sederhana sekaligus rumit, menghilangkan anggapan memilah sampah rumit dan menjadikannya gaya hidup terutama bagi generasi muda.

Iqbal mengaku agak sulit mendekati generasi yang lebih tua untuk mengubah kebiasaan mereka dalam membuang sampah. Untuk mengatasinya, dia mendekati anak-anak muda dengan harapan mereka mau membawa kebiasaan ini ke rumah dan mengajak anggota keluarga lainnya.

“Paling sederhana, pilah sampah basah dan kering. Nanti, sampah yang kering dikasih ke kami,” kata dia.

Sampah-sampah kering terutama plastik ini akan disulap menjadi produk bernilai ekonomis, hasil penjualan akan ditaruh di yayasan agar mereka bisa terus membantu masyarakat untuk mengelola sampah.

Kertabumi Recycling Center tidak hanya menerima donasi sampah kering, mereka juga menjemput bola dengan menyediakan layanan gratis jemput sampah ke rumah, demi menumbuhkan gaya hidup mengelola sampah.

“Kami nggak ingin ada pendapat ‘mau buang sampah saja harus bayar’,” kata Iqbal.

Cara lain mengumpulkan sampah, mereka membuka “dropbox”, saat ini baru terdapat di daerah Senayan, Gandaria dan Bintaro. Kertabumi ingin memperluas jangkauan ini melalui kerja sama dengan perusahaan maupun pemerintah agar mereka dapat menempatkan dropbox di sejumlah titik.

Cara memilah sampah

Kertabumi mengajak anak-anak muda untuk mulai memilah sampah di rumah dengan cara yang sederhana, sediakan tempat sampah berbeda untuk sampah kering (anorganik) dan sampah basah (organik).

Banyak orang yang merasa memilah sampah adalah pekerjaan yang rumit karena walau pun sudah dipisah menjadi basah dan kering, kedua kategori itu masing memiliki berbagai turunan. Misalnya sampah kering terdiri dari plastik, kertas, kaca dan lainnya.

Untuk memulainya, menurut Iqbal tidak perlu membuat banyak kategori, cukup sampah basah dan kering. Dia juga memberikan tips agar memilah sampah menjadi aktivitas yang menyenangkan, yaitu pastikan tempat sampah bersih dan tidak berbau supaya tidak merasa jijik ketika membuang sampah.

Aktivitas memilah sampah juga akan bertambah seru dengan melibatkan anggota keluarga untuk mewarnai tempat sampah.

Setelah dipisah antara yang kering dan yang basah, buang sampah organik ke lubang biopori di tanah agar berubah menjadi kompos. Biopori akan membantu menghilangkan aktivitas membakar sampah, yang sudah dilarang dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008.

Jika tinggal di apartemen atau rumah yang tidak halaman, membuat sampah organik menjadi kompos tetap bisa dilakukan dan sudah banyak caranya, misalnya dengan memiliki tong komposter berisi mikroorganisme yang akan mengurai sampah, atau dengan pot bunga yang dilubangi.

“Sampah rumah tangga itu 60 persen sisa makanan, seharusnya sudah berakhir di rumah. Kalau itu sudah dilakukan, tinggal 40 persen,” kata Iqbal.

Sampah kering seperti botol plastik bisa diberikan ke pemulung atau diberikan ke komunitas seperti Kertabumi.

Baca juga: Plastik di laut bisa dimanfaatkan industri daur ulang

Barang berkualitas

Selain mengubah paradigma tentang mengelola sampah adalah aktivitas yang rumit, Kertabumi juga ingin menghilangkan anggapan bahwa produk dari material daur ulang berkualitas rendah.

Kertabumi membuat produk dengan pendekatan estetika agar barang-barang hasil daur ulang terlihat menarik. Produk-produk yang dipamerkan Kertabumi paling banyak terbuat dari material plastik, antara lain tas belanja dan dompet kecil

Mereka menggunakan mesin jahit untuk menyambung plastik-plastik tersebut menjadi tas dan agar kualitas barang terjaga.
  Produk daur ulang sampah plastik buatan Kertabumi Recycling Center. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

“Kami ingin menghilangkan paradigma barang daur ulang nggak berguna, makanya, kami, pakai mesin jahit supaya kualitas bagus,” kata dia.

Iqbal meyakini gaya hidup mengelola sampah di kalangan anak-anak muda akan terus berkembang, salah satu bukti yang dia rasakan adalah donasi sampah cenderung meningkat setiap bulan. Kertabumi pernah harus menola donasi sampah dan mengalihkannya ke bank sampah.

Tren peduli lingkungan seperti ini juga didukung oleh figur publik, salah satunya bintang iklan Tasya Kamila, yang sudah beberapa tahun belakangan memilah sampah di rumah.

Ketertarikan Tasya, yang juga dulu dikenal sebagai penyanyi cilik, untuk mengelola sampah berawal dari dia diangkat menjadi Duta Lingkungan Hidup oleh, saat itu bernama, Kementerian Kehutanan, ketika dia duduk di bangku SMP.

Saat menjadi Duta Lingkungan Hidup, Tasya banyak berkeliling ke berbagai tempat di Indonesia, dari yang tidak bersih sampai yang sangat maju dalam mengelola sampah.

Tasya akhirnya tertarik untuk belajar mengelola sampah di rumah dan berusaha menularkan kebiasaan ini pada keluarga dan teman-temannya.

Menurut Tasya, memilah sampah di rumah tidak sesulit yang dibayangkan, cukup menyediakan beberapa tempat pembuangan untuk sampah organik, sampah anorganik dan sampah yang tidak bisa didaur ulang seperti pembalut atau popok sekali pakai bekas.

“Sediakan dulu tempat sampah terpisah, nanti ada niat untuk memilah sampah,” kata dia.

Tasya sengaja menempatkan tempat sampah anorganik di dekat dapur karena produksi sisa makanan paling banyak berasal dari sana. Setelah terkumpul, dia akan memindahkan sampah bekas makanan ke tong komposter.

Tasya tidak hanya memilah sampah di rumah, dia juga berusaha untuk menggunakan barang-barang yang mendukung kebiasannya untuk tidak banyak memproduksi sampah, misalnya membawa kantung belanja kain saat berbelanja dan menggunakan sedotan yang terbuat dari stainless steel.

Baca juga: Kemenperin dorong industri daur ulang di sektor otomotif

Oleh Natisha Andarningtyas
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019