Bagaimana penanganan yang benar untuk sakit maag?

Jakarta (ANTARA) – Sakit maag yang sudah menjadi salah satu keluhan umum masyarakat seringkali dianggap sebagai yang menyebabkan penderitanya meninggal dunia. Benarkah demikian? Bagaimana penanganannya?

Berikut paparan tentang sakit maag dari dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi hepatologi yang berpraktik di RS Pondok Indah – Puri Indah, dr Hendra Nurjadin, SpPD-KGEH dalam sebuah diskusi media di Jakarta, Jumat.

Apa itu sakit maag?

Istilah sakit maag merupakan suatu kumpulan keluhan, yang dalam istilah kedokteran, dikenal sebagai sindroma dispepsia. Keluhan sakit maag berhubungan dengan gangguan asam lambung, gas lambung, dan gerakan lambung, selain infeksi bakteri Helicobakter Pylori. Organ yang berkaitan dengan keluhan itu adalah kerongkongan, lambung dan usus dua belas jari.

Baca juga: Waspadai nyeri di ulu hati saat berpuasa

Sakit maag berbahayakah?

Ada sejumlah tanda bahaya yang berhubungan dengan keluhan sakit maag yaitu mual dan muntah yang tidak membaik dengan pengobatan standar, muntah darah, feses berdarah dan warna hitam, lengket dan berbau khas (melena).

Tanda bahaya lain adalah anemia atau penurunan berat badan tanpa diketahui penyebabnya, kesulitan menelan, adanya benjolan (tumor) di bagian perut atas. Selain keluhan itu, seseorang dengan riwayat keluarga terkena kanker lambung atau keluhan maag muncul pada penderita berusia di atas 45 tahun harus segera berkonsultasi dengan dokter.

Apa beda gejala sakit maag dan jantung koroner?

Sakit maag biasanya ditandai dengan gangguan pencernaan seperti sakit ulu hati, perih dan panas. Lalu, perut kembung, begah, dan merasa cepat kenyang. Penderita lain merasakan mual, muntah, sendawa, sakit menjalar ke punggung, nafas sesak, dan keluhan lain yang bermuara pada area perut bagian atas.

Sementara sakit jantung koroner diawali gejala sesak nafas, dada terasa tertindih, rasa berat di dada saat beraktivitas atau saat berbaring, sakit dada berulang. Gejala lainnya yakni sakit dada menjalar ke lengan, rahang hingga punggung, sakit ulu hati, begah. Jika penderita merasa sesak atau sakit dada, muncul keringat.
  Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi hepatologi yang berpraktik di RS Pondok Indah – Puri Indah, dr Hendra Nurjadin, SpPD-KGEH dalam sebuah diskusi media mengenai gangguan pencernaan di Jakarta, Jumat (29/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Apa pemicu risiko sakit maag?

Pola makan dan jenis makanan tertentu menjadi pemicu kemunculan sakit maag. Tapi, Hendra mengatakan tidak ada makanan yang menjadi penyebab pasti sebagai pemicu. Tapi secara umum, makanan terlalu pedas, terlalu asam, terlalu berminyak, terlalu banyak kafein akan berpengaruh pada pencernaan.

Selain itu, ada juga faktor pola buang air besar tidak teratur, merokok, konsumsi minuman beralkohol, obesitas dan sejumlah penyakit seperti diabetes melitus, gagal ginjal, gagal jantung, gangguan fungsi liver, batu empedu dan penyakit pankreas.

Apakah makan sate kambing bisa menyebabkan sakit maag?

Menurut Hendra, sate kambing tidak menyebabkan sakit maag. Tapi jika terlalu banyak mengonsumsi cabai rawit yang disajikan bersama sate kambing, risiko terkena sakit maag akan muncul.

Baca juga: Benarkah makan pedas sebabkan maag?

Bagaimana mengatasi sakit maag?

Pengobatan pertama adalah dengan konsumsi obat untuk sakit maag. Jika keluhan terjadi hingga berhari-hari penderita diminta untuk segera konsultasi dengan dokter.

Konsultasi itu diperlukan guna memastikan permasalahan saluran pencernaan yang terjadi. Misalnya, pengobatan empirik selama satu hingga dua minggu, pemeriksaan endokskopi untuk mengetahui kelainan struktur anatomi, dan menilai kerusakan atau kelainan rongga saluran pencernaan.

Apa dampak terburuk kalau sakit maag tak diobati?

Jika gangguan sakit maag tidak ditangani apalagi adanya infeksi kuman Helicobacter Pylori, penderita akan mudah terkena tukak lambung yang berpotensi menjadi penyakit ganas pada lambung.

Apa sakit maag bisa sembuh dan kambuh?

Sakit maag dapat sembuh tapi kembali berpotensi kambuh jika penderita terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas, asam, mengandung kafein, berlemak, dan berminyak. Begitupula jika penderita punya pola makan yang tidak teratur.

Hendra menyarankan penderita sakit maag untuk menghindari konsumsi obat anti nyeri. Jika diperlukan penderita harus berkonsultasi dengan dokter serta menghindari rokok, alkohol dan stres.

Baca juga: Wedang jahe bisa lancarkan pencernaan

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019